Jamaah LC dan PKPK Susun Pelatihan PFA untuk Tingkatkan Kapasitas Relawan Bencana
Surabaya, Siagakota.net – Upaya meningkatkan kapasitas relawan penanggulangan bencana terus dilakukan melalui berbagai langkah kolaboratif. Salah satunya diwujudkan oleh Jamaah LC (Lorong eduCation) bersama insan akademisi yang tergabung dalam PKPK (Pusat Krisis dan Pengembangan Komunitas) dengan menggelar rapat penyusunan pelatihan Psychological First Aid (PFA) di Basecamp Lorong eduCation, Kelurahan Keputih, Surabaya, Rabu (20/05/2026) malam.
Pertemuan tersebut digelar secara terbatas agar pembahasan berjalan lebih efektif dan menghasilkan keputusan yang matang. Dalam rapat itu, peserta membahas berbagai hal penting mulai dari penentuan peserta, susunan panitia, narasumber, hingga lokasi dan jadwal pelaksanaan pelatihan.
Kegiatan pelatihan berbasis inisiatif komunitas seperti ini dinilai sangat penting dalam mendukung penguatan kapasitas relawan kebencanaan. Pasalnya, penanganan bencana bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata, tetapi membutuhkan keterlibatan berbagai unsur masyarakat melalui konsep kolaborasi pentahelix.
Aris dari Komunitas Surabaya Emergency Respon menegaskan bahwa budaya tangguh bencana harus dibangun melalui kepedulian dan kemauan berbagi ilmu antar komunitas relawan.
“Inisiatif berbagi ilmu dan pengalaman seperti ini penting dimiliki setiap komunitas sebagai bentuk kontribusi nyata relawan dalam membangun kesadaran budaya tangguh bencana,” ujarnya.
Ia juga menilai langkah PKPK Unair dalam menghadirkan pelatihan PFA bagi relawan patut diapresiasi karena mampu memperkuat kemampuan relawan dalam mendampingi para penyintas bencana, khususnya dari sisi psikologis.
Selama ini, pelatihan terkait manajemen bencana, kesiapsiagaan, dan pengurangan risiko bencana memang cukup sering dilaksanakan. Namun, materi Psychological First Aid masih belum banyak dikenal di kalangan relawan, meski praktiknya sering diterapkan secara langsung saat menghadapi korban bencana di lapangan.
Basuki, salah satu peserta rapat, menyampaikan bahwa pemahaman mengenai konsep PFA sangat penting agar relawan mampu berinteraksi dengan penyintas secara tepat dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.
“Relawan perlu memahami konsep PFA agar dapat membantu penyintas bangkit dari keterpurukan serta menumbuhkan semangat untuk pulih,” katanya.
Sebagai informasi, Psychological First Aid merupakan serangkaian tindakan dukungan awal yang diberikan kepada seseorang yang mengalami tekanan psikologis akibat peristiwa traumatis, seperti bencana alam. Tujuannya adalah memberikan rasa aman, nyaman, mengurangi stres, serta membantu penyintas menghadapi dampak awal dari kejadian tersebut.
Rapat yang berlangsung dinamis dengan suasana “sersan” atau serius tapi santai itu akhirnya menghasilkan sejumlah keputusan penting. Pelatihan PFA akan dilaksanakan dalam dua tahap di lokasi berbeda.
Pelatihan pertama dijadwalkan pada 30 Mei 2026 di Basecamp LC dengan jumlah peserta terbatas dan melibatkan mahasiswa Psikologi UIN sebagai penanggung jawab kegiatan. Sedangkan pelatihan kedua akan digelar pada 20 Juni 2026 di Aula BPBD Provinsi Jawa Timur melalui kolaborasi PKPK Unair dan Jamaah LC dengan peserta yang lebih luas dari berbagai komunitas relawan.
Menutup rapat, Puspita dari RPBI mengingatkan pentingnya koordinasi lebih awal dengan pihak BPBD terkait penggunaan aula pelatihan agar seluruh persiapan dapat berjalan lancar.(Klik W1)










