Menggagas Rencana Aksi Mitigasi Bersama Lintas Komunitas
Malang ,Siagakota.net -Salah satu program rutin yang digelar oleh Yayasan Mitigasi Nusantara adalah mengadakan diskusi yang diikuti oleh berbagai komunitas relawan maupun pecinta alam.
Kegiatan ini digelar secara informal tanpa seremonial di sembarang tempat, yang penting nyaman untuk ngopi sambil merokok. Bisa di Warung kopi, di Cafe, di rumah atau cukup di Basecamp, di Daerah Sawojajar, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang.

Salah satu penggerak sekaligus ketua Yayasan Mitigasi Nusantara, Yeka Kusumajaya, mengatakan bahwa Yayasan ini bergerak di bidang sosial untuk meningkatkan wawasan dan kapasitas relawan sehingga dapat ikut berperan serta dalam upaya pengurangan risiko bencana secara mandiri maupun berkolaborasi.
Sesuai namanya, Yayasan ini berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat, dan relawan melalui edukasi kebencanaan agar lebih siap dan tahu apa yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi, untuk mengurangi jumlah korban dan kerugian harta benda, tanpa harus menunggu bantuan dari pihak luar
“Kegiatan kami tidak mencari keuntungan finansial semata, namun lebih pada upaya berbagi pengalaman untuk kemudian dicoba dikolaborasikan dalam kegiatan bersama yang bermanfaat,” Katanya mengawali perbincangan, Sabtu (18/07/2026) Siang.
Dikatakan pula bahwa Yayasan yang melibatkan pecinta alam ini bergerak di bidang Konservasi lingkungan, Komunikasi informasi edukasi kebencanaan, Pendampingan masyarakat petani dan nelayan, serta peningkatan kapasitas melalui berbagai pelatihan kebencanaan dan operasi pencarian dan pertolongan (SAR).
“Saat ini program yang sedang kami rintis adalah melakukan pendampingan petani kopi di Desa Dampit dan pendampingan Santri Siaga Bencana di Pamekasan, serta membangun kerja sama untuk konservasi kawasan lereng gunung Arjuno,” Katanya lagi.
Masih kata bapak berputra dua yang pernah bertugas mendampingi korban bencana gempa di Provinsi Sulawesi Tengah, Yayasan Mitigasi Nusantara mencoba melakukan terobosan baru melalui diskusi untuk saling bertukar ide dan konsep sesuai dengan kondisi sosial budaya setempat. Salah satunya lewat kegiatan diskusi informal antar relawan dan pecinta alam yang banyak pengalaman di lapangan.
“Dalam diskusi semua pihak boleh ikut gratis tanpa syarat tertentu, dan tidak setiap diskusi langsung menghasilkan sebuah aksi. Namun akan terus berlanjut saling menguatkan ide dan konsep untuk mencapai kesepakatan bersama,” Pungkasnya. ( Klik 10)










