Forum Pengurangan Risiko Bencana Jawa Timur Tampil di Global Forum for Sustainable Resilience Jakarta
Jakarta, Siagakota.net -Indonesia mendorong perubahan cara pandang terhadap resiliensi melalui kolaborasi lintas sektor agar berbagai tindakan yang selama ini berjalan sendiri-sendiri dapat menghasilkan dampak yang lebih nyata.
Semangat tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam pembukaan The 3rd Global Forum for Sustainable Resilience (GFSR), ADEXCO 2026, dan IEE Series Engineering Week 2026 di Jakarta, Rabu (09/09/2026).
Pembelajaran dari berbagai peristiwa bencana di Indonesia menunjukkan pentingnya kerja bersama dalam proses pemulihan. Untuk itulah Pemerintah Indonesia mengajak berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, masyarakat, sektor swasta, akademisi, hingga mitra internasional, untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun ketangguhan yang berkelanjutan
Untuk menjawab harapan di atas, Forum pengurangan risiko bencana (FPRB) Jawa Timur, sebagai salah satu peserta yang diberi kesempatan oleh panitia untuk memaparkan hasil capaian programnya dalam membangun budaya tangguh masyarakat Jawa Timur melalui berbagai pelatihan.
Ratnaningsih, sebagai bendahara forum, pada kesempatan itu memaparkan tentang program pendampingan Desa Tangguh Bencana yang Inklusif di empat Kabupaten/Kota, yang tidak hanya berhasil menyusun dokumen pengurangan risiko bencana saja, tapi juga membangun kesadaran dan kemandirian Masyarakat, sehinggai terbentuklah Peraturan desa tentang Penanggulangan Bencana, sekaligus membangun ketangguhan ekonomi di desa dampingan.
Perempuan cantik berkacamata ini juga memaparkan tentang penyelenggaraan Jambore FPRB Jatim & Festival Nasional FPRB di Banyuwangi beberapa waktu yang lalu, sebagai ajang Koordinasi, Pembelajaran, peningkatan Kapasitas dan kolaborasi dari tingkat lokal ke tingkat nasional.
“Pada acara itu di lakukan penanaman pohon Cemara Udang di daerah pesisir guna mencegah abrasi, dan menyuburkan pesisir pantai. Kemudian bersama komunitas Jangkar Kelud melakukan penanaman pohon buah sebagai upaya adaptasi perubahan iklim, sekaligus membangun ketahanan ekonomi masyarakat,” Katanya.
Dengan durasi waktu yang terbatas, Ratna juga menyinggung keberhasilan FPRB bekerja sama dengan dunia usaha, menginisiasi komunitas untuk memanfaatkan sampah menjadi pupuk organik, paving blok dan ternak magot. Termasuk melakukan konservasi lingkungan dan penanaman pohon sebagai upaya menjaga ketersediaan sumber daya air, mencegah bencana hidrometeorologi, serta memulihkan lahan kritis di lereng bukit dan daerah tangkapan air.
“FPRB Jawa Timur juga dilibatkan dalam penyusunan peraturan daerah dan peraturan gubernur tentang relawan penanggulangan bencana,” Ujarnya mengakhiri penampilannya. [*]










