Mahasiswa UINSA Bekali Relawan Bencana dengan Teknik Pendampingan Psikologis Penyintas
Surabaya, Siagakota.net – Upaya meningkatkan kapasitas relawan penanggulangan bencana terus dilakukan. Salah satunya melalui kegiatan penyuluhan tentang Psychological First Aid (PFA) atau pertolongan pertama psikologis yang digelar sivitas akademika Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) di Basecamp Lorong eduCation, Kelurahan Keputih, Kecamatan Sukolilo, Surabaya, Sabtu (30/5/2026) malam.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 20 relawan penanggulangan bencana yang antusias memperdalam pemahaman mengenai cara memberikan pendampingan kepada para penyintas secara humanis dan penuh empati. Pembekalan ini dinilai penting agar relawan mampu membantu korban bencana tanpa menimbulkan tekanan emosional tambahan.
Materi disampaikan oleh Soffy Balqies, dosen Program Studi Psikologi UINSA. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa Psychological First Aid merupakan bentuk bantuan psikologis awal yang diberikan kepada penyintas dengan cara mengamati kondisi mereka, mendengarkan keluhan yang disampaikan, serta mengidentifikasi kebutuhan yang belum terpenuhi.
“Prinsip dasar dalam PFA dikenal dengan metode 3L, yaitu Look (mengamati), Listen (mendengarkan), dan Link (menghubungkan). Kesehatan mental memiliki peran yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik dalam proses pemulihan korban bencana,” ujarnya.
Menurutnya, relawan tidak hanya bertugas memberikan bantuan fisik, tetapi juga perlu hadir secara emosional dengan membaur bersama para penyintas di lokasi pengungsian. Dengan demikian, kebutuhan dasar korban dapat diketahui lebih cepat dan segera dikoordinasikan dengan pihak terkait untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Suasana penyuluhan berlangsung interaktif. Para peserta tidak hanya menerima materi teori, tetapi juga mengikuti simulasi penerapan prinsip 3L pada berbagai kondisi darurat, seperti banjir, kebakaran, hingga kecelakaan lalu lintas. Sesi diskusi dan berbagi pengalaman antara pemateri dan relawan yang pernah terjun langsung ke lokasi bencana semakin memperkaya wawasan peserta.
Salah satu mahasiswa UINSA, Yulia, berharap kegiatan tersebut mampu melahirkan relawan yang tidak hanya tangguh secara fisik, tetapi juga memiliki kemampuan pendampingan psikologis yang baik.
“Semoga para relawan dapat menjadi agen perubahan yang mampu memberikan dukungan dan semangat kepada penyintas agar lebih cepat bangkit serta melanjutkan kehidupannya setelah terdampak bencana,” katanya.
Ia juga berharap penyuluhan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan guna memperkuat kapasitas relawan dalam menjalankan misi-misi kemanusiaan di lapangan.
Sementara itu, Syaiful, salah seorang peserta, mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru dari kegiatan tersebut. Menurutnya, materi yang diberikan sangat bermanfaat untuk membantu relawan memahami kebutuhan dasar penyintas dan memberikan pendampingan yang lebih efektif saat bertugas di lokasi bencana.
Dengan adanya pelatihan ini, para relawan diharapkan semakin siap memberikan layanan kemanusiaan yang tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga mendukung pemulihan psikologis para korban bencana.(Klik L1)










