Federasi Mountaineering Indonesia Menggelar Sarasehan Bagi Pendaki Di BPBD Jawa Timur

 

Sidoarjo-Siagakota.net – Dulu, aktivitas mendaki gunung, jelajah hutan itu hanya dilakukan oleh komunitas pencinta alam. Baik itu organisasi pecinta alam (opa), mahasiswa pecinta alam (mapala) maupun siswa pecinta alam (sispala). Namun kini mendaki gunung merupakan salah satu kegiatan di alam bebas yang dapat dilakukan oleh semua orang, tanpa spesifikasi tertentu, yang penting sehat jiwa raga.

Apalagi sekarang jaman tiktoker yang hanya mengejar jumlah followers untuk kontennya, maka yang terjadi sering kali mengabaikan keselamatannya, yang penting bisa bikin konten menarik bagi followernya.

Terkait dengan hal di atas, federasi Mountaineering (FMI) menyelenggarakan sarasehan dengan mengambil judul Kota Aman Pendakian Aman, di Gedung Tenpina BPBD Provinsi Jawa Timur, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, Minggu (09/08/2026) pagi.

Purwanto, ketua panitia sarasehan ini dalam sambutannya mengucapkan terimakasih kepada BPBD Jatim yang telah memfasilitasi tempat dan nara sumber. Semoga kolaborasi ini dapat terus berlanjut dalam rangka mengedukasi para pendaki dan penikmat kegiatan alam bebas agar peduli keselamatan pendakian dan pelestarian lingkungan alam.

“Kedepan FMI berencana membentuk Pendaki Reaksi Cepat yang akan memberikan edukasi dan pertolongan kecelakaan dalam pendakian. Nantinya pesertanya diseleksi dan diberi pelatihan lebih dulu agar mumpuni,” Tambahnya.

Irfan (kaos oren) staf bidang Pencegahan dan kesiapsiagaan BPBD Jatim bersama peserta sarasehan Kota Aman,  Pendakian Aman
Irfan (kaos oren) staf bidang Pencegahan dan kesiapsiagaan BPBD Jatim bersama peserta sarasehan Kota Aman, Pendakian Aman

Sementara itu, Irfan Setyanudin, staf bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jatim, mengatakan bahwa masih banyak pendaki yang kurang sadar akan pentingnya keselamatan dan tanpa sadar merusak alam. Untuk itu perlu kiranya kerjasama antara FMI dan BPBD untuk melakukan edukasi kepada pendaki agar lingkungan alam tempat pendakian lestari, bersih dari sampah dan kegiatannya aman terhindar dari kecelakaan yang merepotkan banyak pihak.

Sedangkan Bambang Sumantri dari Tim Reaksi Cepat BPBD Jatim berharap agar para pendaki sebagai bagian dari masyarakat terlatih ikut berperan dalam penanggulangan bencana di perkotaan tempat tinggalnya, seperti banjir, kebakaran dan kecelakaan lalu lintas.

Dalam sarasehan ini peserta yang hadir sepakat jika seorang pendaki memiliki pengetahuan dasar beraktivitas di alam bebas, seperti manajemen perjalanan, navigasi, dan survival, yang diperlukan oleh pendaki guna mengantisipasi situasi kedaruratan.

Menurut Ahwati, dari Alpala (Alumni Pecinta Alam) menambahkan, pendaki juga perlu mematuhi peraturan yang berlaku di daerah pendakian agar tidak mengalami masalah selama pendakian.

Paul, salah satu pengurus FMI menambahkan bahwa FMI hadir dalam rangka memberi manfaat bagi pendaki dan berupaya mengurangi kecelakaan pendakian. Untuk itu anggota FMI harus proaktif melakukan mitigasi pendakian melalui kegiatan sarasehan, diskusi maupun “sharing session” terkait aktivitas di alam bebas.

“Ketidak pedulian terhadap keselamatan menjadi salah satu penyebab kecelakaan. Untuk itu pendaki yang baik harus mentaati peraturan setempat, hormati kearifan lokal, kenali jalur pendakian dan kelengkapan sarana prasarana pendakian harus dipersiapkan dengan baik,” Pungkasnya. (Klik 10)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *