Bali Didorong Jadi Provinsi Mandiri Energi, PLTS 1.000 MWp Dikebut
Jembrana, Siagakota.net – Bali memasuki babak baru dalam pengembangan energi bersih. Presiden Prabowo Subianto pada Selasa (25/8/2026) meresmikan program pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 GWp yang akan dikembangkan di berbagai wilayah Indonesia.
Dalam program tersebut, Bali mendapat alokasi awal 1.000 MWp. Peresmian dilakukan di Jembrana, di tengah kawasan yang dipenuhi panel surya sebagai simbol dimulainya langkah besar menuju kemandirian energi.
Selain menghadiri peresmian, Presiden Prabowo juga meninjau langsung pembangunan PLTS berkapasitas 321 MWp yang berdiri di atas lahan seluas 321 hektare. Saat ini, satu MWp PLTS telah dibangun di atas lahan sekitar satu hektare. Pembangunan tahap berikutnya dijadwalkan dimulai September 2026 dan ditargetkan selesai dalam waktu satu tahun.
Bali Siapkan 1.000 Hektare Lahan
Gubernur Bali Wayan Koster sebelumnya telah menyiapkan sekitar 1.000 hektare lahan kering yang tidak produktif untuk mendukung pengembangan energi surya. Lahan tersebut tersebar di sejumlah wilayah, yakni Jembrana, Buleleng, dan Karangasem.
Langkah cepat tersebut mendapat perhatian dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. Bali bahkan memperoleh peluang tambahan kuota pengembangan PLTS hingga 1.500 MWp.
Koster menegaskan, pengembangan energi bersih tersebut bukan program yang muncul secara mendadak. Menurutnya, kebijakan itu merupakan bagian dari visi pembangunan Bali yang telah dirintis melalui Pergub Bali tentang Energi Bersih serta Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun.
Target Mandiri Energi pada 2030
Pemerintah Provinsi Bali menargetkan kombinasi PLTS 1.000 MWp dan pembangkit listrik tenaga gas sebesar 1.550 MW mampu memenuhi kebutuhan energi Bali secara mandiri paling lambat pada 2030.
Dengan target tersebut, Bali diharapkan tidak lagi bergantung pada pasokan listrik dari luar pulau.
Jika terealisasi sesuai rencana, Bali berpotensi menjadi salah satu provinsi terdepan dalam pemanfaatan energi baru terbarukan dalam skala besar. Penggunaan energi bersih juga diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus mendukung penurunan emisi.
Dampaknya diharapkan tidak hanya dirasakan sektor energi. Lingkungan yang lebih bersih dinilai dapat memperkuat daya saing pariwisata Bali di tingkat internasional. Pemerintah juga berharap pengembangan energi tersebut dapat menciptakan sistem kelistrikan yang lebih efisien dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Keputusan Berawal dari Rapat Larut Malam
Di balik percepatan program tersebut, terdapat proses koordinasi yang berlangsung dalam waktu singkat. Koster mengungkapkan, pembahasan dilakukan dalam rapat pada Sabtu (22/8/2026) sekitar pukul 23.00 WITA bersama Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
Sehari kemudian, Minggu (23/8/2026), keputusan mendapat persetujuan Presiden. Hanya berselang dua hari, program tersebut resmi diluncurkan pada Selasa (25/8/2026).
Koster menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo, Menteri ESDM, dan Direktur Utama PLN atas dukungan terhadap pengembangan energi bersih di Pulau Dewata.
Ia berharap program tersebut benar-benar menjadi langkah konkret menuju Bali mandiri energi, sekaligus memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan keberlanjutan pembangunan daerah.(Klik DK1)










