LMI Buka Pos Layanan di Sejumlah Wilayah Terdampak
Nusa Tenggara Timur.Siagakota.net- Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 pukul 05.58 WITA. Hingga sekarang upaya penanganan dan pemulihan masih terus dilakukan oleh berbagai relawan di sejumlah wilayah terdampak.
Lembaga Manajemen Infaq (LMI) melalui Laznas LMI mengerahkan tim kemanusiaan untuk membantu masyarakat terdampak gempa. Berdasarkan pembaruan data per 24 Agustus 2026 pukul 18.00 WITA, gempa utama yang berpusat di wilayah Kabupaten Nagekeo, sekitar Mbay, tersebut masih diikuti gempa-gempa susulan.
Susanto, staf Humanitarian Program Laznas LMI, mengatakan tim di lapangan masih berupaya menjangkau masyarakat yang terdampak, terutama untuk memenuhi kebutuhan dasar warga di wilayah yang mengalami kerusakan.
“Respons kemanusiaan masih terus kami lakukan dengan fokus pada kebutuhan dasar masyarakat terdampak. Tim berupaya memastikan bantuan dapat menjangkau wilayah-wilayah yang membutuhkan, termasuk melalui layanan dapur umum, distribusi logistik, air bersih, layanan kesehatan, hingga evakuasi dan pencarian serta pertolongan,” katanya lewat selulernya, Senin (24/08/2026) Sore.
Dalam rangka respons darurat, LMI menjalankan sejumlah program untuk membantu kebutuhan masyarakat terdampak, seperti mendirikan 120 pos dapur umum, 130 pos dapur air, melakukan distribusi logistik, serta layanan kesehatan, di beberapa titik lokasi yang strategis.
Regional Manager LMI Bali dan NusarTenggara sekaligus Koordinator Aksi, Achmad Ramadhani Prakoso, mengatakan pemilihan titik lokasi dilakukan untuk mendekatkan layanan kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Tim kami menempatkan pos di beberapa wilayah strategis agar respons dapat lebih cepat dan distribusi bantuan bisa menjangkau masyarakat terdampak. Pos utama menjadi pusat koordinasi, sementara pos aju berfungsi memperluas jangkauan layanan ke wilayah lainnya,” kata Achmad.
Karena itu, masih kata pria bertubuh subur ini, LMI tidak hanya melakukan distribusi bantuan, tetapi juga melakukan asesmen kebutuhan, pelayanan kesehatan, penyediaan makanan dan air, serta mendukung proses pencarian dan evakuasi apabila diperlukan.
“Kami terus melakukan pemantauan dan asesmen di lapangan. Data kebutuhan masyarakat terus bergerak sehingga bantuan juga harus menyesuaikan kondisi terbaru. Prinsipnya, kami berusaha agar masyarakat terdampak tetap mendapatkan kebutuhan dasar selama masa tanggap darurat,” ujarnya. (Klik 10)










