Eri Cahyadi dan 750 Pemain Hidupkan Sejarah Surabaya

Surabaya, Siagakota.net – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi tampil gagah memerankan tokoh Residen Sudirman dalam opera kolosal “Merah Putih Bertanya” yang digelar di depan Hotel Majapahit, Jalan Tunjungan, Surabaya, Sabtu (26/9/2026).

Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari refleksi sejarah untuk mengenang peristiwa heroik perobekan bendera Merah Putih Biru menjadi Merah Putih di Hotel Yamato, yang kini dikenal sebagai Hotel Majapahit, pada masa perjuangan mempertahnkan kemerdekaan Indonesia.

Dalam opera tersebut, Eri Cahyadi memerankan Residen Sudirman, salah satu tokoh penting yang terlibat dalam rangkaian peristiwa menjelang perobekan bendera pada 1945. Kehadiran tokoh tersebut dihidupkan kembali melalui pertunjukan teatrikal yang melibatkan ratusan pelakon.

Tak hanya Eri Cahyadi, Rini Indriyani juga ambil bagian dengan memerankan sosok Ibu Pertiwi. Pada penghujung pertunjukan, Rini membacakan puisi yang menjadi refleksi atas keberanian, pengorbanan, dan semangat perjuangan arek-arek Suroboyo.

Opera kolosal ini melibatkan sekitar 750 pemain dari berbagai kalangan, mulai seniman, pelajar, mahasiswa, komunitas, Karang Taruna, Paguyuban Cak dan Ning, Paskibraka, hingga musisi lokal.

Menariknya, pertunjukan tahun ini mengusung konsep human statue atau monumen hidup. Para pelakon tidak hanya tampil di atas panggung, tetapi berbaur dengan ruang publik untuk menghadirkan suasana Surabaya pada masa prakemerdekaan.

Eri Cahyadi mengatakan, refleksi perobekan bendera tersebut bukan sekadar pertunjukan seni ataupun agenda tahunan. Menurutnya, momentum itu harus menjadi pengingat bagi masyarakat untuk terus menjaga semangat perjuangan para pahlawan dan arek-arek Surabaya.

“Jadi hari ini maknanya warga Surabaya bersatu. Jangan hanya mengumandangkan Indonesia Raya hanya pada waktu upacara, tapi selalu kibarkan bendera Merah Putih di dalam hati kita,” kata Eri.

Ia menegaskan bahwa perjuangan pada masa kini memiliki bentuk yang berbeda. Menurutnya, berbagai persoalan sosial seperti kemiskinan, anak putus sekolah, hingga premanisme masih menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.

“Selagi masih ada kemiskinan, anak putus sekolah, hingga premanisme, maka perjuangan kita tidak boleh berhenti. Kita harus bisa menjaga kota ini untuk anak cucu kita,” ujarnya.

Eri juga mengutip pesan Presiden Soekarno, “Warisi apinya, bukan abunya.” Pesan tersebut, kata dia, menggambarkan pentingnya meneruskan semangat perjuangan, bukan sekadar mengenang peristiwa sejarah.

Keterlibatan generasi muda menjadi salah satu bagian penting dalam opera “Merah Putih Bertanya”. Sejumlah pemain berasal dari kalangan pelajar SMP hingga SMA yang turut menghidupkan kembali kisah perjuangan masa lalu melalui seni pertunjukan.

Eri menilai, pelibatan anak muda penting agar sejarah tidak hanya berhenti sebagai pengetahuan tentang masa lalu, tetapi mampu dipahami sebagai nilai yang harus diterapkan dalam kehidupan.

“Surabaya ini ditentukan oleh Gen Z, apakah Surabaya ini bersatu atau terpecah, menjadi keluarga atau lawan, itu dari kekuatan anak-anak Gen Z,” katanya.

Melalui pertunjukan tersebut, semangat perjuangan arek-arek Suroboyo kembali dihadirkan di tengah masyarakat. Sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi menjadi pesan bagi generasi hari ini untuk terus menjaga persatuan dan merawat Indonesia.(Klik L1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *