Demplot Padi Organik 4 Hektare di Jembrana Jadi Percontohan Pertanian Berkelanjutan
Jembrana, Siagakota.net – Upaya mengembangkan pertanian ramah lingkungan berbasis kearifan lokal terus digencarkan di Bali. Hal tersebut ditandai dengan dimulainya demplot padi organik seluas 4 hektare di Subak Berawantangi, Desa Tukadaya, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana.
Program percontohan ini merupakan hasil kolaborasi antara CV Dibia Kencana Dewata dan PT Talitha Group. Dalam tahap awal, petani menguji budidaya padi varietas MR menggunakan sistem transisi dengan komposisi 50 persen pupuk organik dan 50 persen pupuk non-organik sebagai langkah menuju pertanian organik secara bertahap.
Pemilihan Subak Berawantangi sebagai lokasi demplot dinilai sangat tepat. Subak tersebut memiliki luas lahan sekitar 129 hektare yang dikelola oleh 149 petani dengan sistem organisasi yang tertata baik serta budaya gotong royong yang masih kuat.
Pemerhati pertanian, Kade Sudiana, SE., S.Pd., M.M., M.Pd., menjelaskan bahwa program ini tidak hanya bertujuan menguji efektivitas pupuk organik, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi petani melalui pendampingan mulai dari proses penyemaian, penanaman hingga panen.
“Program ini bukan sekadar demplot biasa, tetapi menjadi contoh nyata penerapan budidaya padi yang lebih ramah lingkungan sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian melalui penggunaan pupuk organik secara bertahap,” ujarnya.
Menurutnya, demplot tersebut diharapkan mampu menjadi model pertanian organik yang dapat diterapkan tidak hanya di Bali, tetapi juga di berbagai daerah di Indonesia. Selain menjaga ketahanan pangan nasional, penggunaan pupuk organik diyakini mampu menekan biaya produksi sekaligus memperbaiki kualitas ekosistem persawahan.
Kade juga mengingatkan bahwa proses peralihan dari pupuk kimia menuju pupuk organik memerlukan waktu dan kesabaran. Dibutuhkan sekitar tiga tahun agar kondisi tanah kembali mencapai tingkat kesuburan ideal dengan pH antara 6 hingga 7.
Meski demikian, ia optimistis hasil yang diperoleh akan sebanding dengan proses yang dijalani. Selama ini produktivitas sawah di Subak Berawantangi berada pada kisaran 8–9 ton gabah per hektare. Dengan penerapan sistem budidaya organik yang konsisten dan pendampingan yang tepat, produktivitas diproyeksikan meningkat hingga 10–13 ton per hektare.
Sementara itu, Klian Subak Berawantangi, Swadia, menyambut positif pelaksanaan program tersebut. Ia mengakui penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus selama bertahun-tahun telah berdampak pada penurunan kualitas tanah sawah.
“Tanpa kami sadari, penggunaan pupuk non-organik yang berlebihan membuat kondisi tanah semakin menurun. Bahkan kini suara kodok dan keberadaan belut di sawah sudah sangat jarang ditemukan,” ungkapnya.
Karena itu, pihaknya berharap program ini mendapat dukungan dan pendampingan berkelanjutan dari Pemerintah Kabupaten Jembrana, Pemerintah Provinsi Bali hingga Pemerintah Pusat agar proses transisi menuju pertanian organik dapat berjalan optimal.
Program ini juga sejalan dengan nilai Tri Hita Karana, filosofi masyarakat Bali yang mengedepankan keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
Melalui demplot padi organik seluas 4 hektare tersebut, diharapkan menjadi awal perluasan pertanian organik di Kabupaten Jembrana maupun wilayah Bali lainnya. Harapannya, lahan pertanian kembali subur, ekosistem sawah pulih, produktivitas meningkat, dan kesejahteraan petani semakin terjamin. (DK1)










