RPH Pegirian Surabaya Sembelih 180 Sapi Kurban saat Idul Adha
Surabaya, Siagakota.net- Perayaan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah di Kota Surabaya diwarnai dengan tingginya aktivitas pemotongan hewan kurban di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Pegirian. Total sebanyak 180 ekor sapi kurban dijadwalkan disembelih selama periode Rabu (27/5/2026) hingga Sabtu (30/5/2026), sebelum berakhirnya hari tasyrik.
Direktur Utama Perseroda RPH Surabaya, Fajar A. Isnugroho, menjelaskan bahwa pada hari pertama pelaksanaan pemotongan tercatat sebanyak 70 ekor sapi telah diproses. Sementara itu, sebanyak 68 ekor dijadwalkan dipotong pada Kamis, 35 ekor pada Jumat, dan 7 ekor pada Sabtu.
Fajar mengatakan, pihaknya masih membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin menggunakan layanan pemotongan di RPH Surabaya. Pendaftaran terakhir dibuka hingga Kamis (28/5/2026), dengan slot pemotongan yang masih tersedia pada Jumat dan Sabtu.
Pada tahun ini, RPH Surabaya tidak menyediakan penjualan hewan kurban. Fokus layanan diarahkan pada jasa pemotongan dan pengolahan daging. Paket jasa potong, kemas, dan kirim dipatok sebesar Rp2,8 juta, sedangkan layanan potong dan lepas tulang dibanderol Rp2 juta.
Menurut Fajar, proses pemotongan di RPH Surabaya mengedepankan tiga prinsip utama, yakni memastikan hewan dalam kondisi sehat, proses penyembelihan sesuai syariat Islam, serta menjamin keamanan daging untuk dikonsumsi masyarakat.
Selain itu, pihaknya juga menaruh perhatian terhadap kesejahteraan hewan dengan memastikan hewan kurban tidak mengalami stres maupun perlakuan yang menyakiti selama proses penanganan hingga penyembelihan.
Untuk menjaga kualitas dan higienitas daging, RPH Surabaya melibatkan dokter hewan yang melakukan pengawasan secara menyeluruh, mulai dari pemeriksaan kesehatan sebelum penyembelihan hingga pengecekan daging dan jeroan setelah proses pemotongan selesai.
Pemeriksaan tersebut meliputi kondisi kesehatan hewan, pemberian vaksin, kecukupan pakan, kebersihan kandang, hingga pengecekan organ dalam untuk memastikan daging bebas dari penyakit, bakteri, maupun kontaminasi lainnya.
Jika ditemukan bagian yang dinilai tidak layak konsumsi, seperti adanya kotoran atau indikasi penyakit pada jeroan, maka bagian tersebut akan langsung dipisahkan dan dimusnahkan demi menjaga keamanan pangan masyarakat.
Fajar menegaskan bahwa ibadah kurban tidak hanya sekadar menyembelih hewan, tetapi juga memastikan seluruh proses dilakukan secara sehat, higienis, dan aman agar daging yang dibagikan benar-benar layak dikonsumsi masyarakat.(Klik L1)










