Riyanto, Banser yang Gugur Demi Menjaga Kerukunan Antarumat Beragama
Surabaya, Siagakota.net – Riyanto lahir di Kediri, Jawa Timur, pada 19 Oktober 1975. Ia tumbuh dalam kehidupan yang sederhana dan hanya sempat mengenyam pendidikan hingga kelas 1 SMP. Demi membantu perekonomian keluarga, Riyanto harus bekerja sejak usia muda dan menjadi kuli timbang di Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (KOPTI) Maja Sejahtera. Meski berlatar belakang kehidupan yang terbatas, ia dikenal sebagai sosok yang memiliki kepedulian sosial dan keberanian luar biasa.
Riyanto kemudian bergabung dengan Barisan Ansor Serbaguna (Banser), sebuah organisasi yang dikenal aktif dalam pengamanan kegiatan keagamaan serta menjaga kerukunan antarumat beragama. Komitmennya terhadap nilai toleransi dan persaudaraan tidak pernah goyah, bahkan dalam situasi yang penuh risiko.
Pada tahun 1999, Indonesia dilanda konflik bernuansa agama, khususnya di Ambon. Untuk mencegah meluasnya ketegangan, Presiden RI saat itu, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), menginstruksikan Banser untuk membantu menjaga gereja-gereja di berbagai daerah sebagai wujud solidaritas dan upaya menjaga perdamaian. Riyanto termasuk salah satu anggota Banser yang menjalankan tugas tersebut, yakni di Gereja Sidang Jemaat Pentakosta, Mojokerto.
Malam itu, suasana ibadah di gereja yang berdiri sejak 1964 tersebut berlangsung dengan tenang. Namun sekitar pukul 21.00 WIB, situasi berubah ketika ditemukan sebuah bungkusan hitam mencurigakan di bawah telepon umum yang berada di seberang jalan depan gereja, tepatnya di sudut kanan percetakan foto kilat Kartini.
Riyanto bersama aparat kepolisian dan rekan-rekan Banser segera melakukan pemeriksaan.
Setelah dicek, bungkusan tersebut diduga kuat berisi rangkaian bom. Tanpa ragu, Riyanto mengambil keputusan cepat dan berani. Ia berupaya menjauhkan benda berbahaya itu dari area gereja demi melindungi keselamatan para jemaat, dengan memasukkannya ke saluran air di tepi jalan.
Namun nahas, saat Riyanto membawa bungkusan tersebut, bom itu meledak. Ledakan hebat membuat tubuhnya terpental hingga ke perkampungan di belakang gereja. Riyanto gugur di tempat, meninggalkan duka mendalam sekaligus teladan pengorbanan bagi bangsa Indonesia.
Pengorbanan Riyanto dikenang sebagai simbol keberanian, kemanusiaan, dan komitmen kuat dalam menjaga kerukunan antarumat beragama di Indonesia.(Klik7)










