Putra Buleleng Habis – Habisan di Margarana. letkol I Gusti Putu Wisnu Gugur Dalam Pengorbanan Teragung

Denpasar, Siagakota.net- Bersama I Gusti Ngurah Rai, Komandan Batalyon I TKR Sunda Kecil Jatuh Sebagai Simbol “Puputan”

Margarana, 20 November 1946 – (Laporan Koresponden Medan Perang)

Pada hari yang akan tercatat kelam namun heroik dalam sejarah Pulau Dewata, Letkol I Gusti Putu Wisnu, Komandan Batalyon I TKR Sunda Kecil, dikonfirmasi telah gugur bersama 96 prajuritnya dalam pertempuran yang kini dikenal sebagai Puputan Margarana. Ia mengakhiri hayatnya sebagai prajurit pemberani yang memegang teguh sumpah kemerdekaan, memilih kematian terhormat di medan laga daripada penyerahan diri kepada penjajah Belanda (NICA).

Keputusan Akhir Sang Komandan Muda
Letkol I Gusti Putu Wisnu, yang dikenal sebagai salah satu tangan kanan I Gusti Ngurah Rai, memimpin pasukannya, yang juga dikenal sebagai bagian dari “Ciung Wanara,” setelah mereka kembali dari perjalanan diplomatik di Jawa untuk mencari bantuan. Sayang, saat mereka kembali, Bali telah diduduki.

Pada hari-hari genting di bulan November 1946, pasukan Ciung Wanara yang terkonsentrasi di Desa Marga, Tabanan, dikepung rapat oleh kekuatan militer Belanda yang jauh lebih superior, baik dari segi jumlah pasukan maupun persenjataan modern. Pihak Belanda sempat mengirim utusan agar Ngurah Rai dan pasukannya menyerah, menjanjikan keselamatan jiwa.

Namun, semangat Puputan—pertempuran sampai titik darah penghabisan—telah merasuk.

“Bali bukan tempatnya perundingan diplomatik. Kami serahkan kepada kebijaksanaan pemimpin-pemimpin di Jawa,” demikian isyarat yang disampaikan Pasukan Ciung Wanara, menolak perundingan.

Perang Habis-habisan di Tanah Suci
Pada 20 November 1946, pertempuran pecah. Di tengah hujan peluru dan tembakan meriam, Letkol I Gusti Putu Wisnu berjuang bahu-membahu bersama Ngurah Rai. Walaupun kalah segalanya, keberanian pasukan Republik tak tertandingi.

Tragedi terjadi ketika satu per satu pejuang Bali gugur. Letkol I Gusti Putu Wisnu yang gagah berani di medan tempur, jatuh sebagai martir, mengorbankan nyawanya demi mempertahankan kehormatan tanah air dan prinsip kemerdekaan yang telah diproklamasikan.

Tak ada yang selamat dari 96 pejuang yang terlibat dalam pertempuran ini. Tragedi Puputan Margarana adalah bukti paling jelas bahwa rakyat Bali tidak gentar menghadapi kekuatan besar demi kedaulatan, menjadikan I Gusti Putu Wisnu, bersama para pahlawan lainnya, simbol abadi patriotisme tanpa kompromi.

Untuk mengenang jasa-jasanya, nama Letkol I Gusti Putu Wisnu diabadikan sebagai nama pangkalan udara di Buleleng, sebuah tribut atas pengorbanan terbesarnya.

(Redaksi memberi hormat setinggi-tingginya kepada para pahlawan yang gugur di Margarana. Merdeka atau Mati!)

Sumber Rujukan Utama
Biografi Singkat Dari Letkol I Gusti Putu Wisnu (Scribd/Dinsos Buleleng): Mengkonfirmasi kelahiran, keterlibatan di TKR Sunda Kecil, dan gugurnya Letkol I Gusti Putu Wisnu (1919-1946) dalam Puputan Margarana pada 20 November 1946.

Jurnal Pendidikan dan Sejarah (Repo Undiksha): Mendukung detail perannya sebagai Komandan Batalyon I TKR Sunda Kecil, upaya menyatukan pasukan Ciung Wanara bersama I Gusti Ngurah Rai, dan peristiwa Puputan Margarana.

Dikutip dari laporan Sejarah Puputan Margarana (Tempo.co/Okezone): Menguatkan konteks Agresi Belanda, penolakan menyerah, dan jumlah korban yang gugur (96 orang) bersama I Gusti Ngurah Rai.

Inews.id dan Nusabali.com: Menyebutkan pengabadian nama beliau menjadi Lapangan Terbang (Bandara Letkol Wisnu) sebagai penghormatan.(klikDk1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *