Kolaborasi BPBD, BAZNAS dan FOZ Atasi Krisis Air Bersih di 14 Desa di Kabupaten Tulungagung

Tulungagung, Siagakota.net -Sejumlah pihak memperkuat koordinasi untuk menangani krisis air bersih yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Tulungagung, mengadakan rapat Koordinasi multisektoral melibatkan BPBD Kabupaten Tulungagung, BAZNAS Kabupaten Tulungagung, Forum Zakat (FOZ) Tulungagung, serta sejumlah lembaga zakat dan kemanusiaan.

Rapat diadakan di Kantor BAZNAS Kabupaten Tulungagung, Jalan Mayor Sujadi No. 172, Jepun, Kecamatan Tulungagung, Kabupaten Tulungagung, kamis (09/10/202), membahas strategi penanganan kekeringan, distribusi air bersih, dukungan tandon air, hingga pembagian jadwal penyaluran agar bantuan dapat menjangkau masyarakat secara merata.

Koordinator Penyaluran Air BPBD Tulungagung, Noval Hamami, menjelaskan saat ini terdapat 14 desa di 8 kecamatan yang masuk dalam pemantauan akibat kondisi kekeringan. Yaitu, Desa Joho dan Desa Rejosari di Kecamatan Kalidawir; Desa Keboireng dan Desa Besuki di Kecamatan Besuki; Desa Kalidawe di Kecamatan Pucanglaban; Desa Kresikan dan Desa Pakisrejo di Kecamatan Tanggunggunung; Desa Gamping di Kecamatan Campurdarat; Desa Sebalor dan Desa Sukoharjo di Kecamatan Bandung; Desa Picisan di Kecamatan Sendang; serta wilayah terdampak di Kecamatan Rejotangan.

“Untuk saat ini penyaluran air baru bisa dilakukan sekitar satu kali dalam satu minggu untuk satu desa. Ada kendala armada dan juga ketersediaan BBM jenis solar yang cukup sulit,” terang Noval.

Ketua BAZNAS Kabupaten Tulungagung, Abdul Wachid, S.IP., mengatakan BAZNAS turut mengambil peran dalam pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat terdampak kekeringan.

“BAZNAS menyiapkan tandon air di 8 desa, serta penyaluran air bersih di 12 desa. Ini merupakan bagian dari ikhtiar bersama untuk membantu masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih,” Ujarnya.

Sedangkan Ketua Forum Zakat (FOZ) Tulungagung, Giarno, menyatakan para mitra FOZ siap mengambil bagian dalam penanganan kekeringan melalui kolaborasi program.

“Para mitra FOZ siap berkolaborasi dalam program kebaikan ini. Kita ingin potensi yang dimiliki masing-masing lembaga bisa disinergikan sehingga manfaatnya lebih luas dan masyarakat yang membutuhkan dapat segera terbantu,” Katanya.

Menurutnya, kolaborasi menjadi penting karena persoalan kekeringan membutuhkan sumber daya yang cukup besar, terutama untuk distribusi air secara berkala.

Sementara itu, Susanto, Humanitarian Program LAZNAS LMI, mengatakan salah satu tantangan dalam penanganan krisis air bersih adalah keterbatasan armada mobil tangki.

“Kita memiliki keterbatasan armada mobil tangki. Karena itu, pembagian jadwal penyaluran air bersih harus benar-benar diatur agar distribusi bisa merata ke 14 desa di 8 kecamatan,” kata Susanto.

Menurutnya, koordinasi diperlukan agar tidak terjadi penumpukan bantuan di satu wilayah, sementara wilayah lainnya belum mendapatkan distribusi.

Kepada Siagakota.net, pria murah senyum ini mengatakan bahwa rapat ini menghasilkan komitmen bersama untuk terus memperkuat komunikasi dan pembagian peran dalam penanganan kekeringan.

“Upaya tersebut sekaligus menjadi bentuk gotong royong lintas sektor untuk memastikan masyarakat yang terdampak kekeringan tidak menghadapi krisis air bersih seorang diri.” pungkasnya. [•]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *