Museum Sepuluh November Ungkap Kisah Pejuang Surabaya 1945
Surabaya, Siagakota.net – Jejak perjuangan Surabaya pada masa revolusi kembali dihidupkan melalui Diskusi Publik yang digelar Museum Sepuluh November Surabaya, Kamis (20/8/2026).
Mengangkat tema “Kilas Balik Surabaya 1945 di Mata Putra Putri Para Pejuang”, kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Auditorium Museum Sepuluh November tersebut menghadirkan kisah perjuangan langsung dari keluarga para pejuang.
Kegiatan dibuka oleh Saidatul Ma’munah, Kepala UPTD Museum dan Gedung Seni Balai Budaya Kota Surabaya. Diskusi ini menjadi momentum penting untuk menggali sejarah perjuangan Surabaya melalui cerita keluarga, arsip, serta penelusuran sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Tiga narasumber hadir membagikan perspektif berbeda mengenai perjuangan para pejuang Surabaya.
Sri Lestari (Tari), putri almarhum Moekari yang merupakan eksponen Polisi Istimewa Surabaya, mengisahkan perjuangan dan pengabdian sang ayah pada masa revolusi fisik 1945–1949.

Kisah perjuangan juga disampaikan Charles E. Tumbel, putra almarhum Benny Tumbel, eksponen BKR Pelajar Surabaya. Ia membagikan memori perjuangan sang ayah bersama para pelajar yang tergabung dalam BKR/TKR Pelajar dalam mempertahankan kemerdekaan, khususnya pada masa Pertempuran 10 November.
Sementara itu, Ady E. Setyawan, S.T., pendiri Roode Brug Soerabaia, mengupas bagaimana sebuah cerita sejarah ditelusuri hingga dapat menjadi sumber informasi yang autentik.
Ia menjelaskan bahwa penelusuran sejarah tidak cukup hanya mengandalkan cerita yang beredar. Diperlukan wawancara dengan keluarga pejuang, penelusuran arsip, serta validasi berbagai data untuk memastikan kebenaran dan keotentikan sebuah kisah sejarah.
Diskusi yang dipandu M.T. Agus, Kurator Museum Surabaya, tersebut diikuti sekitar 100 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, khususnya mahasiswa jurusan sejarah. Sejumlah peserta bahkan datang dari luar Surabaya, termasuk mahasiswa UIN Jember.
Suasana diskusi berlangsung interaktif. Para mahasiswa aktif menyampaikan pertanyaan dan berdialog dengan narasumber, terutama mengenai kisah perjuangan para tokoh, sumber sejarah, serta bagaimana generasi muda dapat menjaga warisan sejarah perjuangan bangsa.
Lebih dari sekadar mengenang masa lalu, kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran untuk mempertemukan sejarah dengan generasi penerus. Cerita yang disampaikan langsung oleh putra-putri pejuang memberikan gambaran bahwa kemerdekaan Indonesia lahir melalui perjuangan, keberanian, pengorbanan, dan persatuan.
Melalui kegiatan ini, Museum Sepuluh November berharap generasi muda semakin memahami nilai-nilai perjuangan para pahlawan dan mampu meneruskannya dalam kehidupan saat ini.
Semangat perjuangan Surabaya 1945 diharapkan tidak berhenti sebagai catatan sejarah, tetapi terus menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk menjaga persatuan, keutuhan, dan amanah kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.(Klik L1)










