Wali Murid Keluhkan Nonton Bioskop
Lumajang,siagakota.net- Beberapa wali murid dengan nada getir mengaku, anak-anak mereka takut kalau tidak ikut nonton bioskop cyber Bullying nilainya dikurangi.
Salah satu wali murid yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan, sejatinya berat bagi wali murid harus membeli tiket.
” apalagi dengan kondisi ekonomi yang sulit, uang rp 25 ribu sangat besar, ” keluhnya.
Dia harus bersusah payah mengusshakan uang, untuk nonton biskop.
” kalau gk ikut nonton, katabya tidak bisa ngerjakan tugas sipnosis sekolah,” gerutunya.
Kegiatan yang mengatasnamakan edukasi justru menciptakan tekanan psikologis dan ekonomi bagi siswa dan keluarga. Ironisnya, semua ini dibungkus dengan narasi moral tentang “kesadaran digital” dan “anti-bullying”.
Di atas kertas, kegiatan nonton bareng (nobar) film bertema cyberbullying oleh siswa-siswi, khususnya SMP, di Lumajang tampak seperti langkah yang cerdas, edukatif, kontekstual, dan relevan dengan zaman.
Namun, di balik layar, publik mencium aroma lain, yaitu bau komersialisasi pendidikan yang semakin kuat.
Bagaimana tidak?
Siswa “dianjurkan” menonton, tetapi faktanya terkesan diwajibkan. Tiket seharga Rp25.000 dijual dengan alasan agar siswa dapat membuat sinopsis film sebagai tugas sekolah.
Pertanyaannya, sejak kapan tugas belajar harus dibayar dengan tiket masuk bioskop?
Padahal dari pihak Kominfo, Kemen PPPA, hingga KPAI, tidak ada satu pun regulasi yang mewajibkan nobar ini. Pemerintah hanya memberi imbauan, bukan instruksi wajib, apalagi berbasis transaksi.
Namun imbauan yang seharusnya bersifat sukarela ini mendadak berubah menjadi semacam “kewajiban” di lapangan.
Jika benar tujuan utama adalah membangun kesadaran tentang bahaya perundungan digital, bukankah sekolah memiliki banyak cara yang lebih bermartabat?
Guru bisa memutar film edukasi gratis dari kanal pemerintah, menggelar diskusi kelas, atau mengundang narasumber literasi digital. Tak perlu tiket, tak perlu EO.
Sedangkan Sekretaris Dinas Pendidikan , Drs Yusuf Ageng, belum bisa dikonfirmasi terkait adanya indikasi anjuran nonton bioskop.
(klik8)










