Striker Jawa Timur Alami Cedera Serius di Final Liga Nusantara KSMI 2025
Surabaya, Siagakota.net- Babak final Liga Nusantara KSMI 2025 yang mempertemukan dua tim tangguh, yaitu Jawa Timur dan Kalimantan Tengah, pada 26 November 2025 telah resmi berakhir. Dalam pertandingan yang berlangsung sengit tersebut, tim Jawa Timur berhasil keluar sebagai juara.
Namun di balik kemenangan tersebut, terdapat musibah yang menimpa salah satu striker Jawa Timur, Rendy Setiawan, yang mengalami cedera patah tulang hidung akibat benturan keras saat pertandingan.
Rangga Yudyanda, Sp.OT., M.Ked.Klin., AIFO-K., FICS, selaku Wakil Ketua Komite Medis KSMI Jawa Timur, menjelaskan bahwa Rendy Setiawan telah menjalani operasi di RS Ubaya untuk menangani cedera tersebut, kamis (27/11/2025).
Menurut Dr. Rangga, kondisi Rendy secara umum stabil, namun benturan hebat yang dialaminya menyebabkan patah tulang hidung serta nyeri pada bagian lutut.
Penanganan awal berupa kompres dingin dan pemberian obat antinyeri telah diberikan oleh tim medis di lapangan. Setelah pertandingan, Rendy dievakuasi ke RS Ubaya untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
Cedera yang dialaminya dikategorikan sebagai cedera sedang. Biasanya, waktu pemulihan untuk dapat kembali bertanding memerlukan sekitar 1–2 bulan. Namun, kondisi lutut Rendy masih memerlukan pemeriksaan lanjutan melalui MRI (Magnetic Resonance Imaging) untuk memastikan tidak ada kerusakan lebih serius.
Untuk cedera patah tulang hidung, dokter telah melakukan tindakan reposisi atau pengembalian posisi tulang hidung di ruang operasi. Sementara itu, apabila hasil pemeriksaan lutut menunjukkan adanya cedera atau putusnya ligamen, maka tindakan operasi rekonstruksi ligamen mungkin diperlukan.
Peran Penting Tim Medis dalam Penanganan Cepat di Lapangan
Tim medis memiliki peran krusial dalam memberikan penanganan cepat untuk mencegah kondisi pemain memburuk. Berikut beberapa langkah yang dilakukan tim medis:
1. Penilaian Cepat (Rapid Assessment)
Setibanya di lokasi, tim medis segera menilai kondisi pemain, meliputi:
. Tingkat kesadaran dan respons
. Pemeriksaan jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi (ABCDE)
. Deteksi perdarahan dan cedera serius lain
Penilaian awal ini sangat penting untuk menentukan prioritas penanganan (triase).
2. Pemberian Pertolongan Pertama
Tim medis memberikan tindakan awal untuk menstabilkan kondisi korban, seperti:
. Mengamankan jalan napas dan memberi oksigen bila diperlukan
. Menghentikan perdarahan
. Melakukan imobilisasi pada area patah tulang
. Menangani shock
. Melakukan RJP (resusitasi jantung paru) jika dibutuhkan
3. Penerapan Triase
Pada kondisi dengan banyak korban, tim medis menentukan:
. Siapa yang harus ditangani segera
. Siapa yang perlu bantuan cepat
. Siapa yang masih bisa menunggu
. Siapa yang tidak dapat ditolong
Hal ini memastikan penanganan dilakukan secara efektif.
4. Menjaga Keamanan Lokasi
Sebelum memberikan penanganan, tim medis memastikan lokasi aman. Bila terdapat potensi bahaya, mereka berkoordinasi dengan polisi, pemadam kebakaran, atau pihak terkait lainnya.
5. Menstabilkan Kondisi Sebelum Transportasi
Sebelum pasien dibawa ke rumah sakit, tim medis memastikan kondisi stabil dengan:
. Mengatur posisi tubuh
. Memasang infus, oksigen, atau alat imobilisasi
. Memantau tanda vital secara berkala.
6. Komunikasi dengan Rumah Sakit
Tim medis memberikan laporan lengkap mengenai kondisi pasien kepada pihak rumah sakit agar penanganan dapat dilakukan segera setibanya pasien.
7. Kolaborasi dengan Layanan Darurat Lain
Dalam kondisi darurat, tim medis bekerja sama dengan:
. Polisi
. Pemadam kebakaran
. Relawan
. Tim SAR
Kolaborasi ini mempercepat proses evakuasi dan penanganan.
8. Edukasi dan Dukungan Psikologis
Selain penanganan fisik, tim medis juga memberikan penjelasan singkat dan dukungan mental kepada korban maupun keluarga untuk mengurangi rasa panik.(Klik3)










