Perlu Diluruskan: Kekeliruan Pemakaian Kostum Pejuang di Hari Pahlawan

Surabaya, Siagakota.net – Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan sebagai bentuk penghormatan kepada para pejuang yang telah berkorban demi kemerdekaan.

Peringatan ini dilakukan oleh berbagai kalangan, mulai dari pelajar, komunitas, hingga instansi pemerintahan di seluruh penjuru negeri.

Namun, ada hal yang disayangkan dalam cara sebagian dunia pendidikan memperkenalkan nilai sejarah kepada peserta didik. Menurut Nur Satriawan, seorang pegiat sejarah, terdapat kekeliruan yang cukup sering terjadi dalam kegiatan peringatan Hari Pahlawan di sekolah-sekolah.

“Setiap 10 November kita memperingati Hari Pahlawan dengan berbagai cara — mulai dari upacara, gerak jalan, hingga lomba-lomba kecil. Sekolah pun biasanya mewajibkan muridnya mengenakan kostum pejuang sebagai simbol semangat patriotisme. Sayangnya, dalam praktiknya, sering terjadi kesalahan dalam pemilihan kostum tersebut,” ujar Nur Satriawan.

Ia menjelaskan, banyak pelajar yang mengenakan pakaian loreng layaknya seragam TNI masa kini, atau bahkan pakaian adat yang identik dengan tradisi daerah. Padahal, hal tersebut tidak mencerminkan kostum asli para pejuang kemerdekaan di masa lalu.

“Harusnya pihak dinas pendidikan meluruskan hal ini. Seragam para pejuang, khususnya Tentara Keamanan Rakyat (TKR)  merupakan cikal bakal TNI  pada tahun 1945 bukanlah loreng seperti sekarang, melainkan hasil adopsi dari seragam tentara Jepang dan PETA (Pasukan Pembela Tanah Air), yang berwarna krem atau hijau muda,” jelasnya.

Menurutnya, kekeliruan dalam pemakaian kostum dapat secara tidak langsung menurunkan nilai historis perjuangan itu sendiri. Seolah-olah para pejuang masa lalu tampil dengan atribut militer modern, padahal konteksnya sangat berbeda.

“Nilai sejarah harus ditanamkan secara utuh kepada pelajar, tidak hanya semangatnya, tetapi juga keaslian atribut perjuangan. Dari hal sederhana seperti kostum, kita bisa menumbuhkan pemahaman bahwa patriotisme dan nasionalisme dibangun atas dasar penghargaan terhadap sejarah yang autentik,” tambahnya.

Ia berharap agar kekeliruan ini tidak terus berlanjut dan menjadi kebiasaan yang salah kaprah. Melalui pemahaman yang benar, generasi muda diharapkan dapat meneladani semangat juang para pahlawan dengan cara yang lebih menghormati keaslian sejarah bangsa. (Klik3)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *