Pedagang Daging Sapi Tolak Relokasi RPH Pegirian, Ancam Mogok Kerja Massal

Surabaya, Siagakota.net – Ratusan pedagang dan jagal daging sapi menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung DPRD Kota Surabaya, Senin (12/1/2026). Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk penolakan terhadap rencana Pemerintah Kota Surabaya yang akan merelokasi aktivitas Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian ke kawasan Tambak Oso Wilangun.

Para pedagang menilai relokasi tersebut berpotensi merugikan keberlangsungan usaha mereka. Di RPH Pegirian sendiri terdapat sekitar 35 hingga 50 pedagang serta penyuplai daging sapi utama untuk pasar-pasar tradisional di Surabaya.

Koordinator Jagal dan Pedagang Daging Sapi se-Kota Surabaya
Koordinator Jagal dan Pedagang Daging Sapi se-Kota Surabaya

Koordinator Jagal dan Pedagang Daging Sapi se-Kota Surabaya, Abdullah Mansyur, menyampaikan dua tuntutan utama dalam aksi tersebut. Pertama, meminta Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, membatalkan rencana pemindahan RPH Pegirian ke Tambak Oso Wilangun. Kedua, mendesak pencabutan surat edaran pendaftaran jagal yang dinilai sebagai langkah awal pemindahan.

“Kami meminta Wali Kota Surabaya mencabut surat edaran terkait pendaftaran jagal Pegirian untuk dipindahkan ke Tambak Oso Wilangun,” ujar Abdullah kepada wartawan di depan Gedung DPRD Surabaya.

Abdullah menegaskan, apabila tuntutan tersebut tidak dipenuhi, para pedagang akan melakukan mogok kerja dalam waktu yang tidak ditentukan. Bahkan, mereka siap menggelar aksi demonstrasi dengan jumlah massa yang lebih besar.

“Mogok ini tidak hanya sehari atau dua hari. Bisa sebulan, dua bulan, bahkan satu tahun. Ini sebagai alarm bagi Pemerintah Kota Surabaya, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, hingga Presiden Prabowo Subianto terkait stabilitas ekonomi,” tegasnya.

Menurut Abdullah, RPH Pegirian dan Pasar Arimbi merupakan pusat distribusi daging sapi bagi seluruh pasar tradisional di Surabaya. Jika mogok kerja berlanjut, distribusi daging sapi dipastikan terganggu hingga mencapai beberapa ton per hari, yang berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi.

“Mulai hari ini kami pastikan tidak ada peredaran daging sapi di Surabaya. Mogok akan terus dilakukan sampai tuntutan kami dipenuhi. RPH Pegirian selama ini menyuplai daging untuk pasar tradisional, pusat perbelanjaan, rumah sakit, UMKM, dan berbagai elemen lainnya,” jelasnya.

Ia juga mengungkapkan sejumlah alasan penolakan relokasi. Salah satunya karena pedagang tidak pernah dilibatkan dalam proses perencanaan maupun penentuan lokasi RPH baru. Para pedagang baru mengetahui rencana tersebut setelah menerima surat pemberitahuan, sementara lokasi yang ditentukan dinilai terlalu jauh.

Selain itu, relokasi dikhawatirkan akan menimbulkan pengangguran dalam jumlah besar. “Kami memperkirakan ribuan orang akan kehilangan pekerjaan karena akses yang sulit, biaya operasional yang meningkat, serta ketidaksiapan untuk berpindah lokasi,” ungkap Abdullah.

Faktor lain yang menjadi pertimbangan adalah melonjaknya biaya operasional jika aktivitas pemotongan dipindahkan ke Tambak Oso Wilangun, yang dinilai akan memberatkan para pedagang dan jagal.

Sementara itu, sebelum membubarkan diri, perwakilan pedagang sempat melakukan audiensi dengan anggota DPRD Kota Surabaya. Usai audiensi, massa aksi melanjutkan penyampaian aspirasi dengan bergerak menuju Balai Kota Surabaya.(Klik3)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *