Krisis Energi Global Mengintai di Balik Konflik Teluk
Jakarta, Siagakota.net — Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kian menekan stabilitas global. Dampaknya tak hanya terasa di bidang keamanan, tetapi juga merembet luas ke sektor energi dunia. Penutupan Selat Hormuz serta serangan terhadap infrastruktur energi membuat distribusi minyak dan gas terganggu, memicu lonjakan harga sekaligus ancaman krisis.
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai jalur vital distribusi energi global. Gangguan di kawasan tersebut langsung berdampak pada pasokan energi yang dibutuhkan untuk menggerakkan industri, transportasi, hingga produksi pangan. Situasi ini menunjukkan bahwa perang tidak hanya soal militer, tetapi juga menyentuh aspek produktivitas dan mobilitas dunia.
Sejumlah negara mulai mengambil langkah darurat. Jepang membuka cadangan energi nasional, sementara Filipina memilih menekan konsumsi energi. Di sisi lain, negara seperti India, Pakistan, Bangladesh, Vietnam, China, dan Indonesia meningkatkan penggunaan batu bara untuk menjaga pasokan listrik tetap stabil.
Namun, langkah tersebut hanya menjadi solusi jangka pendek. Ketergantungan pada batu bara berisiko terhadap fluktuasi harga dan memperburuk polusi udara, yang pada akhirnya memperparah krisis iklim global.
Di tengah situasi ini, komitmen dunia terhadap Perjanjian Iklim Paris kembali diuji. Kesepakatan yang menargetkan pembatasan kenaikan suhu global hingga 1,5 derajat Celsius itu hingga kini belum sepenuhnya tercapai. Tanpa langkah konkret dan percepatan transisi energi, target tersebut terancam gagal.
Tantangan ini sebenarnya sudah terlihat sejak pandemi Covid-19, ketika kebutuhan energi meningkat tajam dan banyak negara kembali mengoperasikan pembangkit listrik berbasis batu bara. Upaya global sempat diperkuat dalam forum G20 tahun 2022, termasuk dorongan kerja sama dalam transisi energi.
Sayangnya, komitmen negara-negara besar masih belum konsisten. Bahkan, Amerika Serikat pada masa pemerintahan Presiden Donald Trump sempat menarik diri dari Perjanjian Iklim Paris, memperlihatkan rapuhnya kesepakatan global.
Konflik di kawasan Teluk kini kembali menyoroti kompleksitas persoalan energi dan iklim. Ini menjadi pengingat bahwa stabilitas dunia tidak bisa dilepaskan dari ketahanan energi dan komitmen terhadap lingkungan.
Sebagai bagian dari komunitas global, Indonesia dihadapkan pada dua tantangan sekaligus: meredam dampak krisis energi akibat konflik dan tetap menjalankan komitmen transisi energi. Salah satu langkah penting adalah mempercepat pencapaian target bauran energi nasional demi menjaga ketahanan energi jangka panjang.(Klik B1)










