Bendera Merah Putih Berkibar di Sudut Kota Surabaya

Surabaya, Siagakota.net- Setiap bulan Agustus, sudut-sudut Kota Surabaya dipenuhi semangat nasionalisme yang kuat. Warga dari berbagai kalangan, tanpa diminta dan tanpa protokoler resmi, dengan sukarela mengibarkan Bendera Merah Putih di depan rumah, di gang sempit, hingga di pojok-pojok kampung.

Meski jauh dari pusat pemerintahan atau lapangan besar, pengibaran bendera di lingkungan warga ini justru mencerminkan kecintaan yang tulus terhadap Indonesia. Sejak awal bulan, suasana sudah terasa meriah. Anak-anak membantu memasang umbul-umbul, remaja mengecat trotoar dengan warna merah putih, sementara para orang tua memastikan tiang bendera berdiri kokoh.

Puncaknya, pada tanggal 17 Agustus, warga berkumpul untuk menggelar upacara sederhana. Tak jarang, mereka menggunakan pengeras suara seadanya dan pakaian apa adanya. Namun kekhidmatan terasa nyata. Lagu “Indonesia Raya” dinyanyikan dengan penuh semangat, dan bendera Merah Putih berkibar dengan gagah di langit kampung.

Tradisi ini tidak hanya menunjukkan rasa hormat terhadap kemerdekaan, tetapi juga memperkuat rasa persatuan dan gotong royong antarwarga. Di tengah hiruk-pikuk kota, semangat ini menjadi pengingat bahwa nasionalisme hidup dan tumbuh di akar rumput — di sudut-sudut kecil Surabaya yang penuh semangat dan harapan.

Pegiat sejarah Nur satriawan
Pegiat sejarah Nur satriawan

Pegiat sejarah Nur satriawan yang lebih akrab di sapa wawan mengungkapkan, Pengibaran bendera merah putih dalam peringatan hari kemerdekaan Indonesia sebetulnya sudah sejak dulu, 80 tahun silam.

“Sesaat setelah proklamasi, bung Karno presiden pertama RI menghimbau agar masyarakat turut mengibarkan bendera merah putih sebagai tanda bahwa bangsa Indonesia telah merdeka & lepas dari cengkeraman penjajah. Selain hal tsb bung Karno juga mengenalkan salam merdeka, yakni mengangkat tangan kanan setinggi telinga sambil mengucapkan merdeka jika bertemu sesama masyarakat republik Indonesia”, ungkapnya.

Meskipun, saat itu bendera merah putih susah didapat namun masyarakat berupaya membuat lambang merah putih dari berbagai benda, semisal plat seng dicat warna merah & putih lalu dipasang di atas rumah & pinggir jalan, membuat cap merah putih di dinding . Di Surabaya pengibaran bendera merah putih pertama terjadi di bekas markas polisi jaman Jepang tokubetsu keisatsutai di seputaran jln Darmo pada 19 Agustus 1945. Pengibaran ini dilakukan oleh agen polisi Nainggolan sebagai bentuk kemerdekaan Indonesia harus diketahui oleh seluruh khalayak di pelosok negeri, ujar Wawan.

Wawan menuturkan, dari peristiwa diatas maka pengibaran bendera merah putih pada momen tertentu terutama saat peringatan hari kemerdekaan menjadi sebuah kewajiban. Bukan sekedar sebagai pengingat namun juga untuk menghargai jasa para pahlawan yang dahulu telah berkorban harta, raga hingga nyawa demi ibu Pertiwi, bukan malah menenggelamkan kesakralan merah putih dengan mengibarkan bendera lain tanpa ada kontek keindonesiaan & kenusantaraan, tuturnya.

Kala itu para pemuda membuat pin merah putih dari seng utk dipasang di bajunya. Bahkan ada kisah seorang pemuda mengambil baju ibunya yang berwarna merah lalu dipotong disambung dengan kain mori berwarna putih agar menjadi sebuah bendera. Sebab disaat itu belum ada orang berjualan bendera Indonesia. Dengan kreatif masyarakat membuat ala kadarnya,pungkasnya.( klik3)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *