Bangunan Ponpes Ambruk, Warga Klaim Sudah Lama Peringatkan Soal Fondasi

Sidoarjo, Siagakota.net – Warga di sekitar Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, mengaku telah lama mengkhawatirkan kondisi bangunan ponpes yang akhirnya ambruk pada Senin (29/9/2025). Mereka menilai struktur bangunan tidak kokoh dan sempat memperingatkan pihak ponpes, namun peringatan itu diabaikan.

Seorang warga yang enggan disebut namanya mengatakan, saat bangunan ambruk, ia merasakan getaran kuat seperti gempa bumi.

“Waktu itu geter, saya sampai lari ke belakang. Suami sudah wanti-wanti, kalau ada getaran jangan ke depan, langsung ke tanah kosong di belakang,” ujarnya, Selasa (14/10/2025).

Warga menduga bangunan tersebut tidak memiliki fondasi yang sesuai standar untuk bangunan bertingkat. Alih-alih menggunakan fondasi tiang pancang atau cakar ayam, bangunan diduga hanya menggunakan fondasi tapak (foot plate) yang dangkal.

“Waktu membangun cuma pakai sepatu, enggak pakai paku bumi. Sudah diingatkan, tapi enggak digubris. Katanya, ‘Kalau pondok ya pakai paku doa’,” ucapnya menirukan perkataan salah satu pengurus pondok.

Senada, warga lainnya mengungkapkan sejak awal pembangunan, mereka sudah curiga karena proses penggalian fondasi tampak tidak dalam.

“Fondasi langsung ditimbun, supaya enggak terlalu dalam. Kami sempat tanya, ‘kok enggak digali lebih dalam?’ Tapi ya enggak didengar,” katanya.

Selain masalah struktur, warga juga mengeluhkan gangguan listrik karena bangunan terlalu dekat dengan jaringan kabel. Keluhan itu sudah beberapa kali disampaikan ke pengurus ponpes, namun tidak ditindaklanjuti.

“Lampu pernah mati karena bangunannya terlalu tinggi. Sudah dikomplain, tapi perbaikannya lambat,” ujar seorang warga.

Kekhawatiran warga bertambah setelah terjadi gempa bermagnitudo 6,5 di wilayah Sumenep, Senin (30/9/25) malam. Getaran gempa turut dirasakan di Sidoarjo dan memicu kepanikan.

“Banyak yang lari keluar karena trauma. Takut bangunan lain juga runtuh,” kata warga.

Meski warga sudah sering memperingatkan, mereka mengaku enggan ikut campur lebih jauh karena segan terhadap pihak ponpes yang dipimpin oleh seorang kiai. Namun setelah kejadian nahas ini, banyak yang merasa kecewa karena peringatan mereka terbukti benar.

“Kami sudah bilang dari dulu, tapi ya itu, pondok punya aturan sendiri. Sekarang yang jadi korban anak-anak santri. Sedih rasanya,” ujar warga lainnya.

Diketahui, bangunan tiga lantai yang termasuk musala di asrama putra Pondok Pesantren Al Khoziny ambruk saat ratusan santri tengah menjalankan Salat Ashar berjemaah. Peristiwa terjadi Senin (29/9/25) sore.

Hingga akhir pencarian Selasa (7/10/25), Basarnas mencatat total 171 korban. Sebanyak 104 selamat dan 67 meninggal dunia, termasuk delapan bagian tubuh (body part). Sebanyak 53 jenazah telah berhasil diidentifikasi oleh Tim DVI di RS Bhayangkara Polda Jatim, Surabaya, hingga Minggu malam (13/10/25).

Tim DVI Polda Jatim Berhasil Identifikasi 58 Korban Robohnya Ponpes Al Khoziny Sidoarjo

Sementara itu, Polda Jatim menyatakan penanganan kasus ini dilakukan hati-hati dan tidak terburu-buru. Proses penyidikan dimulai setelah dilakukan gelar perkara pada Kamis (9/10/25), yang menaikkan status dari penyelidikan menjadi penyidikan.

“Proses hukum tetap berjalan, namun tidak tergesa. Sebagian saksi merupakan keluarga korban dan wali santri yang masih berduka,” ujar Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Jules Abraham Abast, Minggu (12/10/25).

Ia menambahkan, pemanggilan saksi dilakukan bertahap dan jumlahnya akan disesuaikan dengan kebutuhan penyidik.(Klik3)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *