Ngopi Bareng Sebagai Media Berbagi Pengalaman Sekaligus Merancang Aksi Bersama

 

Surabaya, Siagakota.net – Konon, kebiasaan ngopi bareng yang dilakukan oleh beberapa orang (komunitas), bukanlah sekedar minum kopi sambil ngemil gorengan saja, namun juga menjadi media untuk merajut kebersamaan, bertukar pikiran, dan berbagi pengalaman, terkait dengan upaya pengurangan risiko bencana serta keterlibatannya dalam penanganan darurat bencana.

Jamaah Lorong eduCation, yang beranggotakan relawan dari berbagai komunitas, dengan mengusung jargon Terus Bergerak Memberi Manfaat, berkomitmen untuk selalu berupaya meningkatkan kapasitas anggotanya melalui berbagai cara, salah satunya adalah dengan memanfaatkan kebiasaan ngopi bareng sebagai media untuk menambah wawasan. Termasuk membuka jejaring kemitraan. Harapannya, hasil obrolan ini dapat dijadikan bahan masukan saat mengikuti rapat yang diadakan bpbd ataupun pihak lain.

Kali ini, tema ngopi bareng yang diambil adalah seputar Relawan dalam Penanganan Darurat Bencana, yang digelar pada hari Minggu (25/10/2026).

Tema yang diangkat kali ini didasarkan dari banyaknya cerita pengalaman beberapa relawan, termasuk anggota jamaah LC yang berkesempatan ikut respon kedaruratan saat terjadi bencana di beberapa tempat. Dimana terlihat kurang siapnya relawan lokal dalam penanganan bencana seperti yang ada dalam konsep Sistem Komando Penanganan Darurat Bencana.

Dalam kesempatan ini, Tirta, Ketua SAR Surabaya menjelaskan tentang pentingnya relawan tahu pengertian tanggap darurat bencana. Yaitu rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkannya.

“Kegiatan ini diantaranya meliputi penyelamatan dan evakuasi, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan kelompok rentan, serta penanganan pengungsi,” Katanya.

Pria yang pernah menjadi ketua Mahagana Unair ini dalam paparannya juga bilang bahwa saat keadaan darurat bencana, kepala bnpb atau kepala bpbd berwenang mengerahkan sumberdaya manusia, sarana prasarana dan logistik dari instansi, lembaga dan masyarakat untuk melakukan penanganan tanggap darurat.

Namun nyatanya, sebagai panduan utama dalam penanganan bencana, keberadaan SKPDB ini efektivitasnya perlu ditingkatkan karena penanganan bencana melibatkan banyak pihak dengan tugas dan fungsi masing-masing yang berbeda, namun diharapkan dapat saling memperkuat respon agar penanganannya lebih efektif.

Terkait dengan permasalahan di atas, Alfin, salah seorang Jamaah LC menambahkan bahwa pembentukan SKPDB seringkali tidak melibatkan banyak pihak sehingga potensi yang ada kurang optimal digerakkan dalam penanganan bencana.

“Celakanya kadang ada personil yang ditunjuk menangani SKPDB kurang paham tugasnya. Termasuk belum paham tentang penanganan tanggap darurat bencana,” Ujarnya.

Acara ngopi bareng berlangsung dinamis. Semua peserta bebas berpendapat, bahkan Anis dari MTI mengusulkan tentang perlunya mengadakan pelatihan untuk relawan dalam meningkatkan kapasitasnya.

Sementara Erick, anggota tim fasilitator SPAB, di penghujung acara mengusulkan perlunya mengadakan sosialisasi SPAB bagi guru sekolah swasta.

“Terkait dengan usulan di atas, kiranya kita perlu segera mengadakan rapat untuk mewujudkannya dalam aksi bersama,” Harapnya.[•]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *