Siswa dan Orang Tua di Empathy School Ubud Gianyar Antusias Ikuti Sosialisasi dan Transect Walk Dalam Edukasi Mitigasi Berbasis Alam

 

Gianyar, Siagakota.net– Empathy School Bali yang berlokasi di Ubud, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali menyelenggarakan kegiatan edukasi dan mitigasi bencana sebagai upaya menumbuhkan budaya tangguh sejak dini, pada hari Jumat (23/10/2026) yang lalu.

Kegiatan yang dikemas secara menarik penuh kegembiraan ini diikuti oleh seluruh peserta didik, tenaga pendidik, tenaga kependidikan, serta orang tua siswa.

Yan Aditya Putra, dari Bali Safety Academy, yang ditunjuk untuk memandu kegiatan ini mengatakan bahwa keunikan dari acara ini terletak pada pesertanya, di mana mayoritas siswa dan orang tua merupakan warga negara asing (WNA) yang memilih Indonesia sebagai tempat untuk menempuh pendidikan berbasis alam (sekolah alam) bagi anak-anaknya.

“Sosialisasi ini terselenggara berkat kolaborasi strategis antara empat lembaga, yaitu: 1. Empathy School (sebagai tuan rumah dan penyelenggara), 2. Bali Safety Academy (BSA)3. BMKG Wilayah III Denpasar (BMKG Bali), dan 4. Servvo, sebuah perusahaan penyedia jasa peralatan pemadam kebakaran,” Katanya.

Selain mendapatkan pembekalan materi teori terkait langkah-langkah mitigasi dan pengurangan risiko bencana, para siswa juga berkesempatan mempraktikkan langsung ilmu mereka melalui metode transect walk.

Dalam sesi ini, mereka mengitari seluruh lingkungan luar ruang sekolah untuk melakukan identifikasi awal serta menilai potensi ancaman bencana yang ada di sekitar area belajar mereka yang menyatu dengan alam.

Setelah melakukan kegiatan transect walk secara berkelompok siswa mempresentasikan hasilnya yang akan dijadikan sebagai bahan rujukan untuk membuat rencana aksi sekolah sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana yang ada di sekitar sekolah.

Pria yang pernah menjadi pengurus Sekretarian bersama Relawan Penanggulangan Bencana Jawa Timur ini menambahkan bahwa acara yang berlangsung dari pagi hingga selesai ini mendapat respon yang luar biasa. Para siswa dan orang tua WNA menunjukkan ketertarikan yang tinggi, penuh semangat, dan mengikuti setiap sesi dengan interaktif. Bahkan setelah rangkaian acara resmi berakhir, mereka mengaku sangat senang dan berharap durasi pelatihan serupa bisa berjalan lebih lama lagi di masa mendatang.

“Apalagi dalam kegiatan ini peserta juga diajak praktek menggunakan alat pemadam api ringan dalam simulasi pemadaman kebakaran. Disini kelucuan sering terjadi kesalahan memahami instruksi,” Tambahnya.

Kepada Siagakota.net, pria pemegang sertifikat fasilitator SPAB ini mengatakan bahwa melalui sinergi ini, sekolah alam tidak hanya menjadi ruang bagi ekspresi kecerdasan emosional dan akademik anak, tetapi juga membentuk lingkungan belajar yang aman, nyaman dan adaptif untuk tumbuhnya kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana.

“Kami sangat mengapresiasi kepada pihak sekolah ini yang berinisiatif membangun budaya sadar bencana sejak dini di lingkungan sekolahnya dengan melibatkan orang tuanya sesuai konsep keluarga tangguh bencana,” Ujarnya. [•]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *