Jagongan Sejarah : Mengungkap Misteri Sejarah dan Budaya Tengger Lumajang
Lumajang, Siagakota.net – Berbicara mengenai Tengger, tidak hanya mengenai legenda Roro Ajeng dan Joko Teger. Banyak hal yang selama ini masih misteri dan perlu diungkap dari berbagai aspek, mulai dari hubungan manusianya dengan Tuhan dan Alam serta filosofi yang perlu didalami. Apalagi di era sekarang, banyak masyarakat tidak mengenal terhadap keberadaan situs dan legenda Tengger.
“ Dari misteri inilah, kami mencoba mengungkapnya dalam acara Jagongan Sejarah, acara obrolan santai dengan berbagai nara sumber yang kompeten dibidangnya, sehingga anak-anak Generasi Genset (Gen Z) bisa mengenal sejarah dan budaya lokal, khususnya budaya Tengger Lumajang yang selama ini nyaris lenyap dari perhatian kita, sebegai genersi muda,” ujar Zainul, Ketua Panitia Jagongan Sejarah, sekaligus Ketua Komunitas JZ (Juru Lumajang).

Kegiatan ini, rencananya digelar hari Sabtu malam ini (7/2/2026), pukul 19.00 – 21.00 WIB di Markas Juru Lumajang, Kedai Oemah Sroedji, di Jalan Seruji Barat No. 05 Ditrotunan Lumajang-Jatim.
“Kami sudah bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Lumajang , baik sebagai nara sumber dan sekaligus mengundang pakar yang berkompeten dari Dosen Uiversitas Jember dibidang Sosiologi, dan tentu saja pesertanya adalah anak anak muda yang punya kepedulian dan memiliki atensi khusus terhadap sejarah Lumajang, baik kalangan pelajar dan mahasiswa,” ujar
Zainul kepada Siagakota.net.
Para pakar yang berbicara di forum obrolan santai ini, adalah Galih Permadi,S.Or,M.Pd,M.M, Kabid Destinasi Dinas Pariwisata Lumajang dan Dosen Sosiologi Unej, Hery Prasetyo,S.Sos,M.Sos yang sekarang sedang menempuh S3 sebagai PHD Student at School of Sociology & Criminologi Uneversity Of Sydney dan juga menghadirkan Moderator Henmawan,SA, Dosen Bahasa STKIP Muhammadiyah Lumajang.
“Saya yakin dengan kepakaran mereka, Jagongan Sejarah ini akan banyak mengungkap misteri dan situs sejarah Tengger di Lereng Gunung Semeru Lumajang, sekaligus menjawab tantangan kedepan menjadikan kebetadaan sejarah Tengger ini sebagai potensi wisata yang bisa menjanjikan bagi kemajuan Lumajang,”tandas Zainul.

Sementara itu, secara terpisah Hery Prasetyo, sebagai nara sumber, mengungkapkan bahwa seorang Romo Dukun menuturkan tentang makna Tengger, sebagai “tetengger sing bener”.
“Permainan bahasa ucapkali memberikan kemungkinan untuk menciptakan metafora yang mana dimensi politik terkesan direduksi sebatas urusan kekuasaan, lebih jauh lagi hanya pada persoalan suksesi jabatan,” tandas Hery.
Sambungnya, “ Lalu bagaimana dengan metafora yang dapat dilakukan pada Tengger, dan apakah gagasan yang hendak diseminasi Romo Dukun Tengger waktu itu, sekedar meromantisir keberadaan mereka yang masih dan akan selalu mempertahankan Tengger.
Fonemena inilah yang hendak kita obrolkan malam ini dan saya yakin kita akan menemukan persepsi yang sama atau bahkan sebaliknya, menjawab keberadaan Tengger sebagai Tetengger Sing Bener,” pungkasnya.(klik.6)










