Pengelolaan TPST Desa Buncitan Dinilai Belum Optimal Tangani permasalahan sampah

Sidoarjo, Siagakota.net-Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di Desa Buncitan dinilai masih kurang maksimal. Sejumlah permasalahan mulai dari penumpukan sampah, keterbatasan sarana prasarana, hingga kurangnya sistem pemilahan menjadi sorotan utama dalam upaya menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.

Berdasarkan pantauan awak media Rabu 18 Februari 2026 di lapangan, sampah rumah tangga yang masuk ke TPST masih bercampur antara sampah organik dan anorganik. Kondisi ini tidak hanya menyulitkan proses pengolahan lebih lanjut, tetapi juga berpotensi menimbulkan bau tidak sedap serta mencemari lingkungan sekitar.

Hendra petugas kebersihan yang bermitra dengan pemerintah desa menyampaikan bahwa pengelolaan sampah memerlukan sistem yang terintegrasi dan komitmen bersama. TPST bukan sekadar tempat pembuangan sementara, melainkan bagian penting dari rantai pengelolaan sampah yang harus dikelola secara profesional.Tempat pembakaran sampah saat ini tidak bisa digunakan kerena tidak bisa difungsikan sesuai dengan kebutuhan.

“Kami melihat perlunya perhatian dari desa yang konsisten, penyediaan fasilitas pemilahan, hingga edukasi kepada masyarakat. Tanpa kolaborasi yang baik antara pengelola dan warga, permasalahan sampah akan terus berulang,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa selama ini pemerintah desa tidak peduli tentang melakukan evaluasi menyeluruh, di mana masyarakat memilah sampah sejak dari rumah dinilai sebagai langkah strategis untuk mengurangi beban di TPST.

Fungsi utama melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik, pengomposan, daur ulang, hingga pengolahan menjadi bahan bakar alternatif (RDF – Refuse Derived Fuel).
Tujuannya untuk mengurangi kuantitas sampah yang dibuang ke TPA, meningkatkan kualitas lingkungan, dan mengubah sampah menjadi sumber daya bernilai ekonomi.

Beda dengan TPS/TPS 3R, TPST memiliki sistem yang lebih kompleks dan melayani skala yang lebih luas, serta mampu melakukan pemrosesan akhir (penanganan residu).

Teknologi yang sering pakai dilengkapi mesin pencacah, mesin pirolisis, atau teknologi RDF (pengolahan sampah menjadi bahan bakar fosil alternatif).
TPST berperan krusial dalam rantai pengelolaan sampah modern untuk meminimalkan dampak lingkungan.

Pemerintah desa diharapkan turut berperan aktif melalui regulasi dan pengawasan yang lebih.Sosialisasi mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang berkelanjutan juga menjadi kunci untuk mengubah pola pikir masyarakat.

Dengan pembenahan yang terstruktur dan dukungan semua pihak, TPST Desa Buncitan diharapkan dapat berfungsi lebih optimal. Upaya ini bukan hanya untuk menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga sebagai bagian dari komitmen bersama dalam mewujudkan desa yang sehat, nyaman, dan berkelanjutan.(Klik W1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *